Judul: ON ISLAMIC CIVILIZATION: Menyalakan Kembali Lentera
Peradaban Islam yang Sempat Padam
Penulis: A.M. Saefudddin, A. Mujib El Syirazy, Adian Husaini,
Adnin Armas, Din Syamsudin, Didiek Ahmad Supadie, Hidayat Nurwahid, Mulyadi
Kartanegara, Syamsuddin Arif, Ugi Suharto dkk.
Spesial
Abstrak: Azyumardi Azra & Hamid Fahmi Zarkasyi
Editor: Laode M. Kamaludin
Penerbit: Unissula Press bekerjasama dengan Republikata
Cetakan: Pertama, Desember 2010.
Tebal: 723 halaman
Begitu
memilukan ketika ternyata ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini yang
berkembang pesat malah justru membawa manusia pada kehidupan yang tidak
bermakna sama sekali. Seperti yang ditulis oleh editor buku ini dengan
mencontohkan seorang tokoh ateis dari Amsterdam yang bernama Ehrenfest yang
tengah berada di puncak karier intelektualnya ternyata mati bunuh diri
sekaligus terlebih dahulu membunuh anak istrinya. Ia bunuh diri, karena
‘merasa’ tidak puas dengan rasio, akal,
dan ilmu pengetahuan yang ‘dituhankannya’ selama bertahun-tahun. Dari rasio,
akal dan ilmu pengetahuan, ia ‘merasa’ tak mendapatkan apa-apa, selain hidup
yang absurd, gamang, dan penuh
kecemasan. Ia ‘merasa’ harus mengakhiri hidupnya, baginya, hidup tak lagi
memiliki makna. (halaman viii)
Melalui buku
ini tampak sekali terlihat bahwa para intelektual Muslim yang gelisah dengan
keadaan manusia modern yang serba absurd ini berusaha untuk memberikan
alternatif solusi untuk kehidupan masa mendatang. Karena bagaimanapun juga
sebagai seorang Muslim apalagi yang memiliki kapasitas intelektual merasa
bertanggung jawab untuk ikut memberikan sumbangsih pemikiran dari krisis yang
menimpa ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini yang serba tak terkendali.
Penemuan nuklir misalnya yang seharusnya diperuntukkan untuk tujuan kemakmuran
umat manusia malah justru mengantarkan pada kekhawatiran musnahnya umat manusia
dari muka bumi ini kalau terjadi perang nuklir.
Buku ini
merupakan kumpulan tulisan para intelektual Muslim yang diundang untuk
berceramah dalam seminar-seminar yang diadakan di Unissula Semarang. Unissula
sebagai salah satu Universitas Islam swasta di Indonesia dalam segi keilmuan
memang sudah berkomitmen dan akan terus mengembangkan keilmuannya yang berbasis
nilai-nilai Islam. Dan melalui buku inilah tampaknya Unissula ingin memperlihatkan keseriusannya.
Ketika
membaca buku ini serasa sekali nuansa peradaban Islam yang ingin diusungnya.
Peradaban Islam bukan saja dipandang sebagai alternatif solusi epistemologi
Ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini yang sedang mengalami krisis nilai,
tetapi lebih dari itu memberi sebuah gambaran bagaimana Islam mengkonstruk
dirinya dalam membangun peradaban manusia yang lebih bermartabat dan
mementingkan kepentingan kemanusiaan.
Seperti Ugi Suharto menulis bahwa Islam
itu agama sekaligus peradaban. Islam sebagai peradaban ditunjukkan olehnya
dengan mengajukan bukti sejarah bahwa ketika Rasulullah wafat, hakikat dan
sifat Islam telah benar-benar dimengerti oleh para sahabat. Masyarakat madani
yang telah dibangun kini bersedia untuk dikembangkan menjadi sebuah tamaddun
dan peradaban dunia. Apabila Islam kemudian memimpin kehidupan dunia selama
seribu tahun lebih dengan berbagai pemerintahannya dari mulai Khalifah
Rasyidah, Umayyah, Andalusia, Abbasiah, hinggalah Utsmaniah, tamaddun Islam
telah mencorakkan dunia Timur dan Barat dengan kehidupan yang lebih seimbang
antara sisi keruhanian dan sisi kebendaan dan materi. (halaman 90)
Selanjutnya Islam dalam membangun
peradabannya tidak bisa lepas dari perangkat world view Islam yang harus
dikuasai oleh seorang Muslim. Karena umat Islam harus sadar bahwa hidup dan
kehidupannya sekarang tidak lepas dari arus globalisasi dan dominasi peradaban
Barat yang juga memiliki world view sendiri yang berbeda dengan Islam.
Hamid Fahmy Zarkasyi menilai bahwa world view Islam dimaksudkan akan
menjadi framework pemikiran yang mempunyai peran epistemologis dalam
mekanisme penerimaan atau penolakan konsep-konsep asing yang bersentuhan dengan
pemikiran Islam. Artinya pada dataran praktis dalam konteks perang pemikiran
dewasa ini, pandangan hidup Islam yang telah menjadi framework pemikiran
seorang Muslim dapat menjadi filter – “ruang menguji” – apakah suatu pemikiran
itu berasal dari tradisi Islam atau berasal dari tradisi asing; dan apakah konsep-konsep
yang berasal dari pandangan hidup asing itu dapat diadaptasi ke dalam pandangan
hidup Islam atau tidak. (halaman 135)
Kemudian persoalan yang masih menggejala
di dunia ilmu pengetahuan sampai saat ini adalah adanya kenyataan masih adanya
dikotomi ilmu dalam pengetahuan. Mulyadi Kartanegara beralasan bahwa salah satu
gambaran yang masih menunjukkan masih berlangsungnya dikotomi tersebut adalah,
sampai saat ini, masih banyak dalam masyarakat kita yang memilah-milah
perlakuan mereka atas guru-guru mereka. Guru-guru agama mereka sanjung
sedemikian rupa lantaran bersinggungan dengan nilai-nilai agama dan mereka
anggap memiliki keberkahan, tidak sedikit guru agama yang dicium tangannya,
sementara guru-guru pelajaran lain, guru non agama, perlakuan semacam itu tidak
terjadi. Masih ada anggapan bahwa guru yang mengajar fisika, matematika,
biologi, dan lain-lain, tidak ada kaitannya dengan persoalan keagamaan
karenanya tidak dianggap memiliki berkah. Tentu saja masalah perlu dikaji
ulang, apakah memang demikian cara pandang Islam? (halaman 241-242)
Persoalan itu dijawab oleh Mulyadi
Kartanegara dengan adanya integrasi ilmu. Sehingga tidak lagi dibedakan antara
ilmu agama atau ilmu non agama. Di akhir tulisannya ia menyimpulkan bahwa di
dalam Islam telah terintegrasi: Pertama, objek ilmu. Objek ilmu tidak hanya
fisik, tetapi juga non fisik. Kedua, sumber ilmu. Sumber ilmu tidak hanya
indera, tetapi juga indera, akal, hati dan wahyu, pengalaman juga begitu tidak
hanya pengalaman indera yang diakui, tetapi pengalaman intelektual, dan juga
pengalaman intuisi atau pengalaman yang disebut religious experience.
Ketiga, integrasi klasifikasi ilmu. Ilmu tidak hanya digolongkan satu yaitu natural
science, tetapi juga ada mathematical science, dan juga metafisichal
science. (halaman 261)
Di samping itu persoalan yang juga
teramat penting dalam menjawab tantangan zaman dewasa ini adalah terkikisnya
keimanan umat Islam oleh sebab gempuran peradaban Barat yang sekular. Padahal
aspek keimanan seorang Muslim adalah persoalan yang paling fundamental. Untuk
menjawab persoalan ini adalah dengan membangun generasi Khaira Ummah melalui
kampus. M. Rofiq Anwar dalam tulisannya menjelaskan bahwa generasi tersebutlah
yang berpotensi memimpin dunia dengan kerahmatan. Ia merujuk bahwa di dalam
Al-Qur’an disebutkan bahwa generasi khaira ummah sanggup membuat dunia
baru yang penuh ketentraman, kemakmuran, kesejahteraan, kedamaian. Sanggup juga
menghapuskan kemaksiatan, kebobrokan, ketidakadilan, kebodohan, penindasan, dan
sebagainya. Ciri-ciri khaira ummah adalah mereka selalu mengajak kepada
iman. Mereka senantiasa mengembalikan manusia kepada iman. (halaman 654)
Dan masih ada lagi pembahasan menarik lainnya
yang tidak mungkin disebutkan dalam tulisan ini. Ikhtiar menyalakan kembali lentera peradaban Islam yang sempat
padam memang pantas untuk disematkan pada buku ini.
Pembahasan demi pembahasan begitu mendalam, menggugah sekaligus menginspirasi
dan sayang untuk dilewatkan. Namun ada catatan sedikit kritik atas buku ini,
karena buku ini merupakan kumpulan makalah-makalah seminar terkadang dari cara
penulisannya ada beberapa yang kelewat sederhana penyajiannya sehingga bagi
pembaca yang jeli akan mendapatkan kesan kurang ilmiah. Lepas dari kekurangan
yang ada, buku ini tetap saja sangat pantas untuk dijadikan referensi dalam
pemikiran keislaman yang mulai menggeliat eksistensinya dan menjadi jawaban
atas permasalahan-permasalahan keislaman yang mungkin dialami oleh Anda selama
ini. (Ibnu Mufti)
.jpg)