Jumat, 23 November 2012

POTRET KEGELISAHAN INTELEKTUAL MUSLIM


Judul: ON ISLAMIC CIVILIZATION: Menyalakan Kembali Lentera Peradaban Islam yang Sempat Padam
Penulis: A.M. Saefudddin, A. Mujib El Syirazy, Adian Husaini, Adnin Armas, Din Syamsudin, Didiek Ahmad Supadie, Hidayat Nurwahid, Mulyadi Kartanegara, Syamsuddin Arif, Ugi Suharto dkk.
Spesial Abstrak: Azyumardi Azra & Hamid Fahmi Zarkasyi
Editor: Laode M. Kamaludin
Penerbit: Unissula Press bekerjasama dengan Republikata
Cetakan: Pertama, Desember 2010.
Tebal: 723 halaman

Begitu memilukan ketika ternyata ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini yang berkembang pesat malah justru membawa manusia pada kehidupan yang tidak bermakna sama sekali. Seperti yang ditulis oleh editor buku ini dengan mencontohkan seorang tokoh ateis dari Amsterdam yang bernama Ehrenfest yang tengah berada di puncak karier intelektualnya ternyata mati bunuh diri sekaligus terlebih dahulu membunuh anak istrinya. Ia bunuh diri, karena ‘merasa’ tidak puas  dengan rasio, akal, dan ilmu pengetahuan yang ‘dituhankannya’ selama bertahun-tahun. Dari rasio, akal dan ilmu pengetahuan, ia ‘merasa’ tak mendapatkan apa-apa, selain hidup yang absurd, gamang, dan penuh kecemasan. Ia ‘merasa’ harus mengakhiri hidupnya, baginya, hidup tak lagi memiliki makna. (halaman viii)
Melalui buku ini tampak sekali terlihat bahwa para intelektual Muslim yang gelisah dengan keadaan manusia modern yang serba absurd ini berusaha untuk memberikan alternatif solusi untuk kehidupan masa mendatang. Karena bagaimanapun juga sebagai seorang Muslim apalagi yang memiliki kapasitas intelektual merasa bertanggung jawab untuk ikut memberikan sumbangsih pemikiran dari krisis yang menimpa ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini yang serba tak terkendali. Penemuan nuklir misalnya yang seharusnya diperuntukkan untuk tujuan kemakmuran umat manusia malah justru mengantarkan pada kekhawatiran musnahnya umat manusia dari muka bumi ini kalau terjadi perang nuklir.
Buku ini merupakan kumpulan tulisan para intelektual Muslim yang diundang untuk berceramah dalam seminar-seminar yang diadakan di Unissula Semarang. Unissula sebagai salah satu Universitas Islam swasta di Indonesia dalam segi keilmuan memang sudah berkomitmen dan akan terus mengembangkan keilmuannya yang berbasis nilai-nilai Islam. Dan melalui buku inilah tampaknya Unissula ingin memperlihatkan keseriusannya.
Ketika membaca buku ini serasa sekali nuansa peradaban Islam yang ingin diusungnya. Peradaban Islam bukan saja dipandang sebagai alternatif solusi epistemologi Ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini yang sedang mengalami krisis nilai, tetapi lebih dari itu memberi sebuah gambaran bagaimana Islam mengkonstruk dirinya dalam membangun peradaban manusia yang lebih bermartabat dan mementingkan kepentingan kemanusiaan.
Seperti Ugi Suharto menulis bahwa Islam itu agama sekaligus peradaban. Islam sebagai peradaban ditunjukkan olehnya dengan mengajukan bukti sejarah bahwa ketika Rasulullah wafat, hakikat dan sifat Islam telah benar-benar dimengerti oleh para sahabat. Masyarakat madani yang telah dibangun kini bersedia untuk dikembangkan menjadi sebuah tamaddun dan peradaban dunia. Apabila Islam kemudian memimpin kehidupan dunia selama seribu tahun lebih dengan berbagai pemerintahannya dari mulai Khalifah Rasyidah, Umayyah, Andalusia, Abbasiah, hinggalah Utsmaniah, tamaddun Islam telah mencorakkan dunia Timur dan Barat dengan kehidupan yang lebih seimbang antara sisi keruhanian dan sisi kebendaan dan materi. (halaman 90)
Selanjutnya Islam dalam membangun peradabannya tidak bisa lepas dari perangkat world view Islam yang harus dikuasai oleh seorang Muslim. Karena umat Islam harus sadar bahwa hidup dan kehidupannya sekarang tidak lepas dari arus globalisasi dan dominasi peradaban Barat yang juga memiliki world view sendiri yang berbeda dengan Islam. Hamid Fahmy Zarkasyi menilai bahwa world view Islam dimaksudkan akan menjadi framework pemikiran yang mempunyai peran epistemologis dalam mekanisme penerimaan atau penolakan konsep-konsep asing yang bersentuhan dengan pemikiran Islam. Artinya pada dataran praktis dalam konteks perang pemikiran dewasa ini, pandangan hidup Islam yang telah menjadi framework pemikiran seorang Muslim dapat menjadi filter – “ruang menguji” – apakah suatu pemikiran itu berasal dari tradisi Islam atau berasal dari tradisi asing; dan apakah konsep-konsep yang berasal dari pandangan hidup asing itu dapat diadaptasi ke dalam pandangan hidup Islam atau tidak. (halaman 135)
Kemudian persoalan yang masih menggejala di dunia ilmu pengetahuan sampai saat ini adalah adanya kenyataan masih adanya dikotomi ilmu dalam pengetahuan. Mulyadi Kartanegara beralasan bahwa salah satu gambaran yang masih menunjukkan masih berlangsungnya dikotomi tersebut adalah, sampai saat ini, masih banyak dalam masyarakat kita yang memilah-milah perlakuan mereka atas guru-guru mereka. Guru-guru agama mereka sanjung sedemikian rupa lantaran bersinggungan dengan nilai-nilai agama dan mereka anggap memiliki keberkahan, tidak sedikit guru agama yang dicium tangannya, sementara guru-guru pelajaran lain, guru non agama, perlakuan semacam itu tidak terjadi. Masih ada anggapan bahwa guru yang mengajar fisika, matematika, biologi, dan lain-lain, tidak ada kaitannya dengan persoalan keagamaan karenanya tidak dianggap memiliki berkah. Tentu saja masalah perlu dikaji ulang, apakah memang demikian cara pandang Islam? (halaman 241-242)
Persoalan itu dijawab oleh Mulyadi Kartanegara dengan adanya integrasi ilmu. Sehingga tidak lagi dibedakan antara ilmu agama atau ilmu non agama. Di akhir tulisannya ia menyimpulkan bahwa di dalam Islam telah terintegrasi: Pertama, objek ilmu. Objek ilmu tidak hanya fisik, tetapi juga non fisik. Kedua, sumber ilmu. Sumber ilmu tidak hanya indera, tetapi juga indera, akal, hati dan wahyu, pengalaman juga begitu tidak hanya pengalaman indera yang diakui, tetapi pengalaman intelektual, dan juga pengalaman intuisi atau pengalaman yang disebut religious experience. Ketiga, integrasi klasifikasi ilmu. Ilmu tidak hanya digolongkan satu yaitu natural science, tetapi juga ada mathematical science, dan juga metafisichal science. (halaman 261)
Di samping itu persoalan yang juga teramat penting dalam menjawab tantangan zaman dewasa ini adalah terkikisnya keimanan umat Islam oleh sebab gempuran peradaban Barat yang sekular. Padahal aspek keimanan seorang Muslim adalah persoalan yang paling fundamental. Untuk menjawab persoalan ini adalah dengan membangun generasi Khaira Ummah melalui kampus. M. Rofiq Anwar dalam tulisannya menjelaskan bahwa generasi tersebutlah yang berpotensi memimpin dunia dengan kerahmatan. Ia merujuk bahwa di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa generasi khaira ummah sanggup membuat dunia baru yang penuh ketentraman, kemakmuran, kesejahteraan, kedamaian. Sanggup juga menghapuskan kemaksiatan, kebobrokan, ketidakadilan, kebodohan, penindasan, dan sebagainya. Ciri-ciri khaira ummah adalah mereka selalu mengajak kepada iman. Mereka senantiasa mengembalikan manusia kepada iman. (halaman 654)
            Dan masih ada lagi pembahasan menarik lainnya yang tidak mungkin disebutkan dalam tulisan ini. Ikhtiar menyalakan kembali lentera peradaban Islam yang sempat padam memang pantas untuk disematkan pada buku ini. Pembahasan demi pembahasan begitu mendalam, menggugah sekaligus menginspirasi dan sayang untuk dilewatkan. Namun ada catatan sedikit kritik atas buku ini, karena buku ini merupakan kumpulan makalah-makalah seminar terkadang dari cara penulisannya ada beberapa yang kelewat sederhana penyajiannya sehingga bagi pembaca yang jeli akan mendapatkan kesan kurang ilmiah. Lepas dari kekurangan yang ada, buku ini tetap saja sangat pantas untuk dijadikan referensi dalam pemikiran keislaman yang mulai menggeliat eksistensinya dan menjadi jawaban atas permasalahan-permasalahan keislaman yang mungkin dialami oleh Anda selama ini. (Ibnu Mufti)